I Teach and I Learn.


Banyak orang yang berkeinganan untuk menuntut ilmu di luar kota dan luar negeri, itu adalah hal yang menarik karena saya termasuk dari bagian “orang” itu. Namun, siapa sangka yang terjadi oleh saya lebih dari itu, saya berkesempatan untuk mengajar dan belajar di negeri orang. Philippines adalah salah satu negera di ASEAN yang bekerja sama dengan The Southeast Asian Minister of Education Organization (SEAMEO). Alhamdulillah saya berkesempatan datang ke Philippines dalam rangka  SEA Teacher, student teacher exchange program.

Program SEA Teacher ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa di Fakultas Ilmu Pendidikan untuk melakukan practice teaching di luar negeri. Pada awalnya saya sempat ragu untuk mengikuti program ini, karena saya adalah mahasiswa PLB tingkat akhir yang juga akan melaksanakan PLK dan tahun ini merupakan masa dimana saya harus menyelesaikan studi saya. Setelah berfikir panjang dan melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing, saya yakin untuk maju. Kesempatan menjadi mahawasiswa tidak bisa datang lagi ketika saya lulus nanti.

 Saya bisa mengatakan bahwa hampir seluruh mahasiswa berkeinginan untuk belajar di luar negeri, namun saya adalah salah satu dari mahasiswa yang mau mewujudkan mimpi saya. Saya bukanlah native speaker, yang lancar dalam berbahasa Inggris, karena itu sejak dua tahun lalu saya aktif mengikuti program les bahasa Inggris. Alhamdulillah saya berada di tempat les yang tepat. Saya bersyukur karena les di tempat ini saya memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan saya yakin untuk maju. Salah satu dosen di PLB juga selalu mengakatakan “mundur satu langkah untuk maju seribu langkah” dan itu juga merupakan salah satu alasan mengapa saya yakin untuk mengikuti program ini. Saya bekerja keras untuk belajar bahasa Inggris dan terus belajar untuk menyempurnakan performa saya saat mengajar.

Alhamdulillah setelah memberikan berkas dan diseleksi oleh International Office UNP, saya lulus untuk melakukan practice teaching di Philippines. Saya terdaftar di St. Paul Univesity Surigao, Philippinies. Saya berada di sana selama satu bulan dan mengajar di Grade School St. Paul University Surigao (SPUS). Selain mengajar, yang tentunya saya juga belajar, saya berkesempatan untuk bertukar pikiran mengenai budaya, agama, pendidikan dan lainnya.

Saya berangkat dari Jakarta ke Manila pada tanggal 14 Februari 2019 dan harus melanjutkan perjalan saya dari Manila ke Butuan pada tanggal 15 Februari 2019. Setelah sampai di Butuan, koordinator program SEA Teacher dari SPUS dan dua buddies telah menunggu kedatangan saya dan teman – teman dari Universitas lainnya. Saya dan satu teman saya dari PLB sebagai perwakilan UNP, dua orang dari Jurusan Biologi Universitas Majalengka, satu orang mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Universitas Prof. Dr. Hamka dan dua orang mahasiswa general science Valaya Alongkorn Rajabhat University, Thailand merupakan mahasiswa yang terdaftar di SPUS. Dari hari pertama kita bertemu, kita sudah dekat satu sama lain dan banyak bertukar pikiran mengenai pendidikan.

Setelah pembukaan dan penyambutan secara resmi oleh SPUS, saya dan teman – teman berkesempatan untuk melakukan campus tour di new site atau basic education, SPUS. SPUS merupakan private school yang dijalankan oleh Sisters of Charity of Saint Paul Chartres. SPUS terdiri dari basic education (PAUD – SMA) dan college departement. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang terkenal di Surigao City.

Saya telah dijelaskan untuk mengajar di kelas 2 SD, mata pelajaran bahasa Inggris. Sayang sekali, karena program ini belum menyediakan sekolah luar biasa untuk melakukan practice teaching. Walau begitu, saya selalu menerapkan di hati dan pikiran saya, bahwa saya akan mendapatkan banyak ilmu dari sini. Saya juga bekerjasama dengan cooperating teacher, yang banyak membantu saya selama saya berada di sekolah. Saya melakukan observasi kelas selama dua hari dan dari observasi ini saya mendapatkan banyak perbedaan antara kultur mengajar di sini dan di Indonesia.

Setelah melakukan observasi, saya melakukan teaching assistant selama satu minggu. Di sini saya banyak belajar cara mengajar di sekolah ini, yang cukup jauh berbeda dengan di Padang atau di Indonesia. Saya belajar menangani siswa – siswi yang aktif dan tidak, pendekatan dan strategi yang bisa diterapkan di kelas, pembuatan lesson plan dan class management. Alhamdulillah cooperating teacher saya merupakan salah satu guru terbaik di sekolah ini sehingga saya belajar banyak hal dari beliau. Saya bahkan diberikan 100 strategi dalam mengajar, dan beberapa dari strategi itu sudah saya amati dan pelajari saat saya melakukan observasi dan teaching assistant. Setelah itu saya mengajar selama dua minggu, dengan minggu pertama saya membuat Indonesian format lesson plan dan di minggu ke dua dengan Filipino format lesson plan. Saya belajar mengenai kurikulum yang diterapkan di Philippines.

Selain itu, saya juga berkesempatan untuk merasakan University Week, educational tour in Butuan dan sea-tour Surigao. Dari program ini saya belajar bahwa hidup di negeri orang adalah sebuah tantangan, pendidikan adalah sebuah tantangan, dan impian adalah sebuah tantangan. Saya belajar bahwa tantangan bukan hanya untuk dilewati namun juga diperlajari dan diresapi. Saya bersyukur bisa mengikuti program ini. Saya sadar, setelah melewati program ini saya mempunyai harapan dan impian yang lebih tinggi untuk pendidikan di Indonesia. Tidak pernah terfikirkan oleh saya bahwa saya telah mengajar dan menjadi guru di luar negeri. Terima kasih kepada International Office UNP yang telah mewujudkan program ini, SEAMEO dan SPUS. Pengalaman ini merupakan pembuka mimpi besar saya lainnya yang harus saya capai. Saya yakin bahwa kerja keras saya masih belum cukup keras untuk menggapai mimpi besar saya lainnya karena itu dibutuhkan konsistensi saya. Saya berharap lebih banyak mahasiswa yang bisa mendapatkan pengalaman berharga ini because like what I said, I teach and I learn.

Penulis: Septya Handayani (PLB 15.15003136)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *